Pasar sedang terombang-ambing dalam ketidakpastian maksimum. Di satu sisi, ketegangan AS-Iran dan ancaman terhadap Selat Hormuz membakar premi risiko. Di sisi lain, ancaman tarif baru dari Presiden Trump dan prospek kelebihan pasokan global menjadi beban berat yang menekan harga .
Analisis Fundamental: Dua Narasi Raksasa Saling Bertarung
KATALIS BEARISH #1: ANCAMAN TARIF TRUMP MENGGUNCANG PASAR
Presiden Donald Trump kembali menjadi momok bagi pasar minyak. Akhir pekan lalu, Trump mengumumkan rencana menaikkan tarif sementara untuk impor dari semua negara ke AS dari 10% menjadi 15%—batas maksimum yang diizinkan hukum—setelah Mahkamah Agung AS menolak program tarif sebelumnya .
Dampaknya langsung terasa: kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi global dan prospek permintaan bahan bakar melumpuhkan sentimen pasar.
KATALIS BEARISH #2: SPECTRE KELEBIHAN PASOKAN 2026
Badan Energi Internasional (IEA) dan analis JP Morgan telah memperingatkan bahwa kelebihan pasokan telah menjadi nyata sejak paruh kedua 2025 dan diperkirakan berlanjut hingga awal 2026. Risiko surplus signifikan mengancam jika produksi tidak disesuaikan dengan tepat .
KATALIS BULLISH #1: KETEGANGAN AS-IRAN MASIH MEMBARA
Meskipun tertutupi oleh berita tarif, api geopolitik di Timur Tengah belum padam. Menteri Luar Negeri Iran menyatakan negaranya hampir menyelesaikan draf respons setelah pembicaraan nuklir, sementara Trump menyatakan sedang mempertimbangkan kemungkinan serangan militer terbatas.
Data perdagangan terbaru juga menunjukkan peningkatan spekulasi dalam membeli opsi beli minyak Brent, mencerminkan ekspektasi kenaikan harga lebih lanjut jika risiko geopolitik meningkat .
KATALIS BULLISH #2: DATA PERSEDIAAN AS YANG MENGEJUTKAN
Menurut laporan 19 Februari dari Energy Information Agency (EIA) AS, persediaan minyak mentah AS turun 9 juta barel di tengah peningkatan kapasitas kilang yang kuat dan aktivitas ekspor—faktor yang berkontribusi pada pemulihan harga minyak pekan lalu .
Laporan investasi AS menunjukkan peningkatan signifikan dalam persediaan baru-baru ini memang sempat menekan harga, mengindikasikan kelebihan pasokan jangka pendek.
Analisis Teknikal: Antara Support Kritis dan Target Bullish
Struktur Pasar: Koreksi di Tengah Tren Naik
Pada kerangka waktu harian (D1) , WTI sedang mengalami tekanan korektif setelah mencoba menembus level resistensi kuat di $65.00 pekan lalu . Harga saat ini berada di $65.70—sedikit di atas support kritis.
Level Teknis Krusial: Titik Hidup-Mati WTI
SUPPORT LANGSUNG $65.62
SUPPORT BERIKUTNYA $64.49 - $64.06
SUPPORT ABSOLUT $62.50
RESISTENSI LANGSUNG $65.30 - $66.60
RESISTENSI LANJUTAN $68.75
Faktor X: Tiga Variabel Penentu Pekan Ini
1. Perkembangan Kebijakan Tarif Trump
Ancaman tarif 15% adalah katalis bearish utama.
2. Negosiasi AS-Iran dan Aktivitas Militer
Perkembangan di Geneva dan Selat Hormuz akan menentukan premi risiko geopolitik.
3. Data EIA dan Keputusan OPEC+
Laporan persediaan mingguan dan sinyal dari OPEC+ menjelang pertemuan 1 Maret akan menjadi katalis fundamental berikutnya.
Kesimpulan & Strategi Trading: Buy on Dip dengan Waspada
PRINSIP UTAMA:
Kondisi saat ini adalah koreksi di tengah tren bullish jangka menengah. Fundamental mix dengan bias bearish jangka pendek (tarif, oversupply) namun didukung oleh geopolitik dan data persediaan positif. Teknikal menunjukkan support kritis di $65.62.
Prinsip pertama: JANGAN MELAWAN TREN UTAMA—tren harian masih bullish. Tapi waspadai volatilitas jangka pendek.
SKENARIO : BUY
Trigger Harga bertahan di atas $65.60 dan membentuk bullish reversal candle
Entry $65.80
Stop Loss $65.20
Take Profit $67.20
Risk/Reward 1:2
SKENARIO : SELL
Trigger Penutupan candle H4 di bawah $65.20
Entry $65.00
Stop Loss $65.70
Take Profit $64.00
Risk/Reward 1:2
Peringatan Risiko & Penafian:
Analisis ini disusun pada 23 Februari 2026, pukul 09:00 WIB, berdasarkan data harga WTI di level $65.70 serta laporan fundamental dan teknis terkini dari berbagai sumber .